Assalamualailkum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sedikit sharing kepada teman-teman. Semoga dapat mengetuk pintu hati teman untuk lebih peduli dengan saudara kita di dunia.
Tanggal 14 Mei 1948 merupakan titik kulminasi rangkaian teror yang digencarkan jaringan-jaringan teroris Stern, Irgun, dan Hagana sejak dua tahun sebelumnya terhadap bangsa Palestina, yang bertujuan mengusir sebanyak mungkin rakyat non-Yahudi dari tanah Palestina dengan pembunuhan, perampokan, penghancuran, penculikan dan penyiksaan. Rangkaian peristiwa itu disebut An-Nakbah (Musibah Besar).
Penduduk tanah Palestina yang tadinya hidup secara damai antara mayoritas Muslim dan minoritas Kristen dan Yahudi, berubah jadi kacau sejak orang Yahudinya kesusupan ideologi laten Zionisme.
Ideologi Zionisme yang memaksakan ketinggian kelas Yahudi atas bangsa manapun di dunia didukung baik secara persenjataan, keuangan, dan politik oleh Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.
Perayaan HUT “Israel” adalah perayaan gerakan terorisme multinasional yang didukung negara.
Clive Soley, waktu itu ketua fraksi Partai Buruh di parlemen Inggris tahun 2001, tak bisa menyembunyikan kegeramannya terhadap seorang pemuda Indonesia yang datang ke kantornya dan bertanya, “Sampai kapan Inggris akan membantu ‘Israel’ yang secara geografis jauh dari Inggris, dan secara demokrasi jauh panggang
dari api karena negara itu didirikan atas dasar tirani minoritas?”
Soley, salah satu politisi Partai Buruh paling senior saat itu, dengan suara bergetar mengatakan, “Dengan harga berapapun kita harus mempertahankan keberadaan ‘Israel’.”
Saat pertemuan itu berakhir, Soley membuang muka saat bersalaman dengan sang penanya.
Sikap Soley mewakili pemerintah Inggris yang mendukung gerakan teror “Israel” oleh negara, bahkan oleh negara-negara. Kalau berbagai teror negara terhadap rakyat di zaman Orde Baru sering dijadikan contoh paripurna bagi “State Terrorism”, maka “Israel” merupakan contoh paripurna bagi “Multinational States Terrorism” atau lebih eloquent-nya “United States of Terror”.
Orang Indonesia yang termakan oleh tipuan “Israel” dan memandangnya sebagai negara demokratis harus lebih cermat mengikuti perkembangan berita dalam negeri “Israel” sendiri.
Dalam dua tahun terakhir, salah satu headline berita-berita koran di negeri penjajah itu adalah penolakan pihak imigrasi “Israel” untuk memberi kewarganegaraan kepada anak-anak yang terlahir dari rahim para pekerja imigran yang mencari nafkah di situ seperti dari Filipina, Cina, dan sebagian Afrika. Alasannya, mereka tidak berdarah Yahudi.
Gerakan Zionisme dan negara yang didirikannya “Israel” tidak akan pernah menjadi negara normal seperti yang selama ini difahami oleh benak masyarakat Indonesia, karena sifat-sifat berikut ini:
* “Israel” didirikan dengan cara menteror rakyat yang lemah yang sejak tahun 1917 tanah-tanahnya diinvasi oleh penjajah Inggris.
* “Israel” didirikan di atas tanah dan laut yang dirampok dari para pemiliknya yang sah, yang sampai hari ini masih memegang kunci-kunci rumahnya, meski kemungkinan besar rumah-rumah mereka sudah diratakan dengan tanah.
* “Israel” dipertahankan keberadaannya dengan cara menteror negara-negara yang menjadi tetangganya yang berbatasan langsung: Lebanon di utara, Syria di timur laut, Yordania di timur dan tenggara, dan Mesir di selatan.
Satu lagi perkembangan mutakhir yang harus dicermati oleh mereka yang bersedia menerima tipuan “Israel” sebagai “negara” adalah, pernyataan tegas Presiden “Israel” Shimon Peres yang menolak hak 7 juta pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah Palestina, meskipun kelak akan berdiri negara Palestina merdeka.
Pernyataan Peres ini saja sudah menunjukkan ketiadaan keinginan untuk “berdamai”. Bukan karena hal itu bisa merugikan “Israel”, namun karena “Israel” ini sejak pembibitannya memang merupakan sebuah negara warmonger, negara pemicu perang. Bacalah lebih cermat sejarah “Israel” yang selalu merupakan sirkulasi prosedur tetap berikut ini:
Agresi–perang–pura-pura damai–pengkhianatan pada perjanjian damai–agresi lagi–perang lagi-pura-pura damai lagi–pengkhianatan pada perjanjian damai lagi–agresi lagi–perang lagi–pura-pura damai lagi…
Dari 10 negara ASEAN, ada 3 yang belum mau mengakui “Israel” sebagai negara: Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Itu karena sejak awal para pemimpin di ketiga negara ini sadar, bahwa mengakui “Israel” sebagai negara berarti menerima dan mengakui penjajahan dan penzaliman Belanda dan Inggris atas diri mereka sendiri selama ratusan tahun.
Bagi Indonesia, jika kita mengakui perampokan dan penjajahan “Israel” atas Palestina sebagai sebuah negara yang sah, maka harus diiringi dengan pengembalian kedaulatan kepada perampok dan penjajah Belanda.
Nama Indonesia juga harus dihapus lagi, diganti dengan nama “Hindia Belanda”. Karena “Israel” memiliki sifat-sifat yang seratus persen sama dengan “Hindia Belanda”.*
Ribuan serdadu dan polisi Zionis dikerahkan di dalam dan di sekitar Al-Quds (Yerusalem) serta di sekitar Masjidil Aqsha untuk membubarkan dan menindas unjukrasa besar-besaran yang direncanakan para pemuda Palestina esok, Ahad 15 Mei, yang merupakan peringatan An-Nakbah (Musibah Besar) ke 63.
PIC melaporkan dari Yerusalem yang dijajah hari ini, penjagaan yang sama ketatnya disiapkan di berbagai kawasan Tepi Barat untuk mencegah warga berkumpul. Berbagai posko militer dipasang dan semua pintu yang menghubungkan Yerusalem dengan Tepi Barat ditutup.
Beberapa pejabat Zionis memang telah menyatakan kekhawatiran bahwa peringatan An-Nakbah – ketika lebih dari 400 desa Palestina dihancurkan dan 750 ribu rakyatnya diusir pada 15 Mei 1948 – akan berkembang menjadi revolusi seperti di negara-negara tetangga.
Pada hari Jum’at kemarin, pasukan Zionis menculik 13 pemuda Palestina dari Al-Quds dengan tuduhan akan menyelenggarakan demonstrasi besar-besaran itu.
Sejumlah pemuda Palestina memang sudah merencanakan akan mulai bergerak dari Lapangan Bab Al-Amoud, salah satu pintu tertua Yerusalem, melalui Jalan Sultan Suleiman dan Jalan Salahuddin menuju rumah-rumah warga Palestina yang direbut atau dihancurkan oleh pasukan Zionis maupun para pemukim Yahudi di daerah Syeikh Jarrah di pusat Al-Quds.
Sebagaimana berulangkali diberitakan, ribuan pemuda di Palestina termasuk di Gaza serta di berbagai negara merencanakan akan menandai An-Nakbah dengan berbagai aksi. Ribuan pemuda akan bergerak dari berbagai negara tetangga Palestina menuju perbatasan-perbatasan mereka dan berunjukrasa di sana.
Waalaikunsalam Warahmatullahi Wabarakatuh
SAVE OUR PALESTINE















0 komentar:
Posting Komentar